Rabu, 19 November 2014

The Babadook

 Sutradara Jennifer Kent, 2014


Dibuka dengan adegan kecelakaan mobil yang melibatkan sepasang suami istri- Amelia dan suaminya-, dimana saat itu mereka berdua sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk melahirkan anak pertama mereka. Naasnya insiden ini memakan korban jiwa yakni suami Amelia. Lompat 6 (enam) tahun diceritakan Amelia hidup sebagai single mother dengan putranya,Samuel. Sebelum tidur menjadi kebiasan Samuel minta dibacakan buku dongeng anak-anak. Dan, disuatu malam yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya sebuah buku dongeng berjudul “The Babadook” dibacakan oleh Amelia atas keinginan Samuel. Adalah sebuah dongeng horor dengan pop up art yang semakin memperlihatkan kengerian cerita. Ketakutan segera dimulai. 

Bagi yang mengharapkan The Babadook menawarkan efek jump scare mungkin akan kecewa, karena film ini menghabiskan sebagian besar durasinya 94 menit ini untuk menunjukkan kepada penonton bagaimana sulitnya seorang single mother mau tidak mau harus mengurusi/menangani putranya-yang mempunyai karakter hiperaktif- seorang diri. Seperti ibu lainnya Amelia tentu saja mencintai Samuel, tapi disisi lain tampak juga ada rasa kebencian mendalam pada putranya ini. Hubungan yang tidak erat ini malah diperumit dengan kehadiran sosok Mr. Babadook. Suatu misteri besar apakah Mr. Babadook ini- yang sebelumnya hanya ada di buku dongeng tadi itu- memang nyata adanya ataukah muncul karena rekaan ibu dan anak ini. Ya, itu dimungkinkan. Samuel seorang anak kecil yang terkadang punya "teman" bermain sementara Amelia diakibatkan terlalu banyak pikiran serta kurang tidur.

Sebagai tipikal film indie berbiaya rendah, film ini menggunakan sedikit pemain, setting yang sebagian besar di dalam rumah, dan alur lambat yang dibangun dari kepingan kejadian sehari-hari. Sebagai pengganti efek ketakutan penonton akan efek jump scare-nya Kent menciptakan horror dimata penonton melalui sudut- sudut gelap serta tone warna yang suram ditambah nuansa thriller yang tak menjemukan.Ini poin plus menarik sebuah film horror di sepanjang filmnya, editing-nya hidup hingga penonton merasakan kengerian yang sama. Elemen- elemen horor di dalam film ini terbentuk tanpa berlebihan disana sini meskipun kenyatannya bahwa film ini lebih menekankan studi karakter seorang ibu single mother bermasalah.

 Namun di balik kelebihannya, sayangnya kita menemukan beberapa kekurangan juga pada film ini.Yang pertama, transisi alur melalui perpindahan beberapa adegannya sungguh kurang `sedap` disaksikan. Kadang-kadang hal ini sangat wajar membuat penonton kebingungan dengan kejelasan cerita dan maksud dari setiap adegannya. Yang kedua, pengembangan alur terasa datar pada film. Akhir kata, The Babadook jelas bukan horor biasa terutama dengan visual monster Babadook yang mengingatkan terhadap beberapa karakter horor terkenal, seperti Annabelle namun The Babadook menampilkan cerita lama dan usang dengan gaya penceritaan unik sehingga membawanya kepada sebuah film yang memiliki rasa akan originalitasnya.



0 komentar:

Posting Komentar