Rabu, 17 April 2013

Life of Pi

Sutradara: Ang Lee, 2012



Saat tersiar kabar bahwa ada satu nama sutradara yang berencana membuat satu film yang diadaptasi dari sebuah novel karya Yann Martel kisah yang akan membuat orang percaya pada Tuhan, banyak pihak yang meragukannya?. Ini tidak lain karena novel ini disebut- sebut sebagai novel yang unfilmable (= tidak mudah untuk di-filmkan). Suatu tugas yang berat. Toh sutradara Ang Lee berhasil menyajikannya dengan sangat baik bahkan sempurna dalam suatu alunan kisah yang sebenarnya terbilang tragis. Caranya mengutarakan buku ini dengan perlahan- lahan tapi pasti ke inti kisahnya mengajak kita menyelami apa yang dialami oleh Pi dalam hal proses perjalanan kehidupan spiritualitasnya. Untuk itu, Ang Lee dan penulis skenario David Magee mengajak kita "melihat" kenangan Pi -sebagaimana novelnya- dimulai dari seorang penulis yang mendapat petunjuk supaya menemui seseorang yang memiliki cerita yang luar biasa.

Adalah seorang bocah laki bernama Pi (Suraj Sharma) yang dilahirkan dan dibesarkan di Pondicherry (sebelumnya adalah wilayah perancis di India) tinggal bersama Santosh (Adil Hussain), ayahnya si pemilik kebun binatang, Gita (Tabu) seorang ibu yang dulunya ahli tanaman dan seorang kakak laki-laki,Ravi (Vibish Sivakumar). Sejak dirinya masih kecil kita melihat sosok Pi "mencari" kehadiran Tuhan dengan memeluk 3 (tiga) agama Hindu, Katholik dan terakhir Islam sekaligus. Menginjak usianya ke-16 kehidupan di keluarganya dihadapkan pada satu masalah. Pi sekeluarga pindah dari Pondicherry untuk membangun kehidupan baru di Kanada. Seperti perpaduan antara Kolombus dan Nabi Nuh keluarga ini berlayar mengarungi luasnya lautan diatas kapal Jepang, The Tsimtsum. Naas, di tengah perjalanan kapal ini tenggelam akibat hantaman ombak besar. Hanya dirinya satu- satunya manusia yang selamat- ia menjadi yatim piatu- diatas sekoci bersama seekor macan Bengali, Richard Parker.

Saat pertama kali kamera menangkap dan merekam indahnya kehidupan fauna begitu menyatu dengan kehidupan flora lalu diiringi lagu pembukanya, "Pi's Lullaby" yang dibawakan oleh penyanyi wanita India,Bombay Jayashri, ya bagian pembuka inilah langsung 'menyulap' mata saya hingga bertahan sampai berakhirnya cerita. Begitu dimanjakan. Pemilihan aktor Suraj Sharma yang baru pertama kalinya berakting dilayar lebar merupakan suatu langkah yang jitu, dimainkan dengan penuh totalitas ia separuh nakalnya anak muda dan separuhnya taat dan pasrah kepada Sang Pencipta. Kita terbawa dengan kehidupannya mengarungi hamparan lautan bersama-sama dan...seperti judulnya Life of Pi. Walau terkadang ada satu momen dimana tensi cerita terasa lamban tapi dengan briliannya Ang Lee (lagi-lagi) memberikan tampilan visual efek yang sangat memukau. Memang benar, satu atau dua adegan terkenal itu akan menjadi pembuktian diri kalau novel ini dari yang unfilmable - filmable.

Setelah menonton film ini, saya berkesimpulan bahwa Life of Pi lebih dari sekedar kisah bertahan hidup di lautan luas. Kisah pencarian Tuhan, ada disini. Di salah satu dialognya, yang diucapkan oleh Pi kepada sang novelis "putuskan sendiri kau mau percaya apa". Yap, inilah yang sebenarnya ingin diajukan oleh Yann Martel. Bagaimana tanggapan atau respon pembaca dan atau penontonnya, apakah kita setuju 100 % semua perkataan Pi?. Oke, bagi saya pribadi ajaran dan didikan Sang Pencipta sudah berkarya sejak awal pada manusia, dalam hal ini tercermin pada sosok Pi. Akibat satu perkataanya, Sang Pencipta mulai mendidik Pi supaya hanya percaya kepada Dia satu-satunya. Mulai dari kalau manusia yang ada disekitar kita sewaktu- waktu akan meninggalkan kita sendirian, 4 (empat) perwakilan hewan yang ada di dalam sekoci Tuhan melambangkan ada manusia yang hanya melihat saja (zebra), yang siap membantu tapi mendapat balasan tak setimpal (orang utan), manusia jahat yang siap 'menerkam' sesamanya disaat lengah (hyena) dan terakhir ketakutan manusia terbesar harus dihadapi karena dari sana kita belajar arti bertahan hidup (macan). Belum lagi hamparan lautan tak bertepi begitulah jalannya kehidupan manusia dan suatu saat akan berhenti (pulau mengapung) dan ditengah- tengah perjalanan manusia Tuhan memberikan makanan yang ada disekitarnya (ikan di laut) serta terkadang sesuatu yang mustahil terjadi (ikan terbang). Refleksi air laut Tuhan mengingatkan manusia untuk refleksi/instrospeksi atas perjalanan hidup yang sudah dijalani.              
  

0 komentar:

Posting Komentar