Jumat, 30 November 2012

Rise of the Guardians

Director: Peter Ramsey, 2012


Apakah teman- teman masih ingat di tahun 2010 lalu ada satu film animasi yang berjudul  Legend of the Guardians: The Owls of Ga’Hoole - bercerita tentang seekor burung hantu muda bernama Soren yang diculik oleh tentara jahat dan berusaha meloloskan diri bersama teman barunya sembari mencari legenda The Guardians -disutradarai oleh Zack Snyder yang sebelumnya pernah menangani film 300 dan Watchmen?.  Kalau masih ingat, di tahun 2012 ini telah dirilis satu film animasi juga  yang (uniknya) sama-sama ada embel kata “The Guardians”-nya. Tapi, jangan sampai kecele ya karena Rise of the Guardians ini bukanlah sekuel atau lanjutan kisah dari Legend of the Guardians: The Owls of Ga’Hoole. Oiya berbicara tentang film animasi, dari sekian banyak film animasi keluaran Hollywood yang saya tonton di bioskop ternyata masih 3 (tiga) film yaitu Kung-fu Panda(2008), The Adventure of Tin-Tin: Secret of the Unicorn(2011) dan film yang baru saja saya tonton versi 3D-nya kemarin malam di Grand City XXI. Oke, saya mulai mengulas bagaimana kisah para The Guardians ini…

Untuk lebih memudahkan mengenal lebih dalam jalan cerita dari film ini, saya terlebih dahulu mengenalkan satu per satu siapa saja anggota “The Guardians”. Semula The Guardians hanya terdiri dari 4 (empat) tokoh mitos mulai dari Sinterklas (Santa Claus), Peri Gigi (Tooth Fairy), Peri Mimpi (Sandman) dan Kelinci Paskah (Easter Bunny). Tiap anggotanya memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. Sinterklas dengan mata besarnya mampu melihat keajaiban sehingga di saat malam Natal dia selalu membagikan kado Natal lewat cerobong asap tiap rumah. Peri Gigi yang mengganti gigi tanggal anak-anak kecil dengan hadiah yang diselipkan dibawah bantal. Peri Mimpi yang selalu memberikan mimpi- mimpi indah disaat tertidur. Kelinci Paskah kalau ini sudah pasti banyak yang tahu kalau di masa Paskah dia selalu membuat telur warna-warni yang biasanya diikuti perlombaan mencari telur Paskah. Ya, semua yang dilakukan “The Guardians” bertujuan membahagiakan anak kecil di Bumi. Dan, selama berabad- abad tugas yang dilakukan “The Guardians” tetap dalam keseimbangan, dalam hal ini tidak ada satu anak kecil yang tidak merasa kebahagiaan. Keseimbangan yang dimaksud disini  dapat diketahui dari seberapa banyak titik cahaya yang bersinar lewat sebuah alat The Globe, dimana tugas ini diemban oleh North si Sinterklas. Hingga suatu hari cahaya -yang melambangkan rasa percaya anak-anak terhadap The Guardians- diradar bumi mulai meredup, menandakan ada sesuatu yang tidak beres.

Jauh dari tempat Kutub Utara dimana North tinggal. Adalah seorang anak laki- laki yang secara tiba- tiba –tepatnya setelah melihat Bulan diatasnya- memiliki kemampuan khusus yakni mampu mengendalikan es dan membuat salju dari sebuah tongkat ajaib ditangannya. Namanya Jack Frost. Memang kemampuan yang dimilikinya dipergunakan untuk bersenang- senang dengan anak seumurannya. Sayang, apa saja yang sudah dilakukan kurang mendapat simpati atau hubungan timbal balik dikarenakan dirinya tidak dapat dilihat manusia ( the invisible man). Merasa percuma, dalam kesendiriannya  di malam hari ia menengadah ke langit dan untuk kedua kalinya bertanya pada Bulan “ jika ada tindakan yang salah, sekiranya tolong beritahu saya”. Cerita kembali ke The Guardians. Kecurigaan North terhadap sesuatu yang tidak beres -yang tampak di The Globe- ternyata ada benarnya, penyebab redupnya ini tak lain bangkitnya Pitch The Boogeyman, si Penyebar Mimpi Buruk dari Abad Kegelapan yang terkurung selama 300 tahun. Mengingat sosok Pitch ini tidak mudah dikalahkan, maka North mewakili The Guardians memohon pada (lagi-lagi) Bulan, di film ini diberi nama Man In Moon, supaya diberikan satu tambahan anggota The Guardians. Simsalabim…Man In Moon menunjuk satu sosok yang tak lain adalah Jack Frost. Demi membuktikan apakah Jack Frost layak sebagai anggota The Guardians ditugaskanlah Easter Bunny menjemputnya. Setibanya di Kutub Utara, dirinya diminta oleh The Guardians untuk membantu melawan kekuatan jahat Pitch. Seperti film The Avengers,proses terjalinnya kerjasama menjadi satu tim solid tidaklah mudah karena selalu ada pertentangan antar ego didalamnya. Ya, inipun yang terjadi pada diri Jack Frost. Semula dirinya tidak akan mau bergabung dalam The Guardians, tapi karena ada satu hal penting yang harus ia temukan dan itu hanya bisa didapatkan dengan cara bergabung dalam The Guardians,akhirnya ia pun setuju bergabung. Dan, kisah Rise of the Guardians beranjak naik saat The Pitch melancarkan berbagai macam strategi jahat terhadap The Guardians dimulai dari mengubah mimpi indah yang diberikan oleh Sandman dijadikannya mimpi buruk, serangan Pitch di Istana Peri Gigi dengan mengambil gigi anak kecil yang sudah payah dikumpulkan oleh Peri Gigi, memecahkan telur paskah buatan Easter Bunny hingga klimaksnya berusaha merayu Jack Frost supaya bergabung dengan dirinya. Semua ini dilakukan oleh Pitch atas satu tujuan yaitu supaya kedepannya anak kecil di Bumi tidak akan lagi percaya dengan The Guardians alias akan percaya pada sosok dirinya sebagai The Boogeyman. Yap, untuk pertama kalinya The Guardians harus bergabung untuk melindungi harapan, keyakinan, dan imajinasi anak- anak di seluruh Bumi.

Jauh- jauh hari sebelum film ini dirilis, melihat poster filmnya  saja terutama poster dengan masing- masing main character-nya saya sudah ada rasa pingin nonton. Apalagi melihat trailernya waduh rasa pingin nontonnya tambah dobel dobel. Dan, saat saya baca twitter resminya United International Picture Indonesia dan Cinema21 yang menyebutkan tanggal rilis film ini di Indonesia termasuk Surabaya langsung dech saya cabz nonton film ini. Ya, kisah Rise of the Guardians benar- benar tidak mengecewakan saya secara pribadi. Dari mulai mengenalkan karakter, membangun cerita  dari awal hingga menunjukkan konfliknya dimana, sampai mengakhiri cerita dengan tanpa cela. Diluar keindahan visual warna warni indahnya, adegan lucu dan sedih yang sudah berhasil ditampilkan. Akhir kata, film ini bercerita mengenai pentingnya mendapatkan kepercayaan dan berusaha menemukan satu kelebihan didalam manusia yakni milikilah hati yang murni…and if The Moon told you so, believe it ( Jack Frost quote).         



2 komentar: