Sabtu, 02 Januari 2016

The Revenant

Sutradara: Alejandro G. Inarritu, 2015

Bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang sutradara membuat satu film berikutnya hanya dalam selang kurun waktu setahun. Apalagi film sebelumnya sudah meraih penghargaan perfilman dunia sebagai Film Terbaik. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Ya, selama masih ada kreativitas ide yang ingin dituangkan ke gambar bergerak, siapa pun boleh melakukannya. Kali ini tema kisah yang diambil adalah mengenai hubungan antara seorang ayah dengan putranya. Dari luar, tampak bukan tema yang baru. Sudah ada film beginian diangkat ke layar lebar. Tunggu sebentar, ditangan sutradara ini sesuatu menjadi tidak seperti film lainnya.

Hugh Glass ( Leonardo DiCaprio) adalah seorang ayah yang bekerja sebagai pemburu bulu binatang yang memliki seorang putra, Hawk (Forrest Goodluck). Suatu waktu dirinya diminta bantuannya bergabung dalam suatu ekspedisi menyusuri Sungai Missouri yang dipimpin oleh Kapten Andrew Henry (Domhnall Gleeson). Oleh penduduk asli setempat,Native America, tindakan mereka ketahuan dan terjadilah pertempuran sengit di sekitar perbatasan sungai. Glass beserta kawanannya memilih melakukan perjalanan darat menuju dalamnya hutan liar, dengan alasan supaya tidak diketahui oleh si Native America tersebut. Tetapi, dalam pelarian inilah sesuatu yang besar terjadi. Ketika hendak menembak salah satu anak beruang Grizzly, dari arah belakang Glass diterkam habis-habisan oleh sang induk beruang. Tubuhnya terluka parah tak bisa bergerak bahkan bicara. Lalu, Kapten Andrew menugaskan 3 (tiga) orang sukarelawan , John Fitzgerald (Tom Hardy), Jim Bridger (Will Poulter), dan Hawk untuk tetap bersama menjaga menemani Glass sampai bantuan tiba.

Judul The Revenant sendiri yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki arti seseorang yang bangkit dari kematian. Bukan, ini bukan film horror. Itu bukan ahlinya sang sutradara. Dengan durasi hampir 2,5 jam adegan awal perburuan kelompok Glass dengan Native America- karena pengambilan bulu binatang- perlahan demi perlahan berpindah ke hubungan antara ayah-anak. Untuk kali ini Alejandro memilih bekerjasama dengan Mark L. Smith menuangkan ide mereka, menerjemahan salah satu novel karangan Michael Punke yang memiliki judul asli : “The Revenant: A Novel of Revenge" (2002) ke dalam layar lebar. Hasilnya, tidak pernah ada rasa lelah bahkan sebaliknya menunggu sampai akhir bagaimana kisah ini akan berakhir.Endingnya membawa emosi. Terpuaskan.

Selain dukungan cerita yang mumpuni, pemilihan seorang sinematografer tak boleh dipandang sebelah mata. Setelah kolaborasinya tahun lalu dengan Alenjandro, Emmanuel Lubezki lagi-lagi menampilkan sinematografi yang benar- benar memanjakan mata. Adegan pengambilan pohon bercabang, narasi tokoh utama di awal film, alam liar. Sangat familiar bagi yang sebelumnya sudah menonton film The Tree Of Life (2011). Ya, itulah ciri khas Lubezki yang diulang disini. Nah, yang mungkin menjadi sorotan akhir- akhir ini karena mendekati ajang perfilman dunia baik itu The Golden Globes ataupun The Academy Awards, nama Leonardo DiCaprio sempat dibicarakan apakah dirinya menjadi pemenang sebagai Aktor Terbaik. Melihat akting maksimal dia di film ini rasanya untuk kali ini Leonardo DiCaprio layak menerima Piala Oscar tahun ini. Kita lihat bersama. Semoga.

  

             

Kamis, 24 Desember 2015

Star Wars VII: The Force Awakens


Sutradara: J.J Abrams, 2015



Waktu yang telah lama ditunggu telah tiba. The Force telah kembali.  Apa saja  yang terbaik dalam Star Wars - Film, acara TV, video game, spin-off, dalam setidaknya 32 tahun, Star Wars: The Force Awakens memberikan energi kehidupan baru menjadikan salah satu franchise terbaik sepanjang sejarah dengan cara yang baik membangkitkan kesenangan- terutama bagi penonton yang lahir di tahun 80-an- terlihat begitu menjanjikan. Namun, sementara batu ujian  terletak pada siapa sutradaranya. George Lucas sang pencipta orisinal Star Wars, kini berpindah diarahkan oleh J.J Abrams . Ada pergeseran tone yang membawa materi lebih dekat dengan nuansa film Steven Spielberg. Serentak premiere hampir di seluruh dunia sebelum Natal, debut pertama dari distributor film Disney ini sebagai kustodian baru memberikan tidak hanya satu melainkan dari dua atau tiga film terlaris sepanjang masa.
 

Tiga puluh tahun setelah Episode VI: "Return of the Jedi" peristiwa perang Rebellion dilancarkan terhadap Kekaisaran Galactic, ancaman baru telah muncul, mengancam untuk mengambil alih galaksi seperti yang dulu dilakukan oleh Darth Vader dan The Emperor. Mereka menyebut dirinya  The First Order, dipimpin oleh hologram dari Pemimpin Tertinggi  Snoke (Andy Serkis), dan seorang pria bertopeng hitam bernama Kylo Ren (Adam Driver), salah satu yang kuat dalam sisi gelap dari Force. Meski dengan tidak adanya Luke Skywalker (Mark Hamill), yang telah mengasingkan diri ke lokasi tersembunyi untuk alasan rahasianya sendiri, Resistance tetap dipimpin oleh Putri Leia (Carrie Fisher), gerakan yang menaruh harapannya untuk menemukan Luke, membawanya kembali, dan menggunakan sisi terang untuk menaklukkan sisi gelap. Sebagai film pertama dari trilogi selanjutnya, tiga orang petualang muda akan bergabung bersama untuk memperjuangkan kebaikan galaksi: Poe Dameron (Oscar Isaac) seorang pilot, Rey (Daisy Ridley) si pemulung, dan Finn (John Boyega) mantan anggota Stormtrooper . Mereka  bergabung menemukan sang Mater Jedi, bertemu sekutu baru, dan menentang The First Order.


Visualisasi yang menakjubkan, emosional yang bercampur aduk, score music yang melegenda ditangan John Williams. Masih dengan plot cerita yang dimulai dengan kalimat “ a long time ago in a galaxy far far away..”, yang diakhiri dengan maksud untuk film masa depan, dan dikemas di tengah dengan segala sesuatu yang membuat penonton sangat betah duduk di kursi bioskop dengan durasi 2 jam lebih. Mulai dari kembalinya  karakter utama , lagu tema lama, referensi klasik, robot andoid yang disukai anak kecil R2-D2 ke BB-8 , pahlawan pemberani, dan perjuangan terus-menerus antara terang & gelap; itu semua ada. Dan tidak hanya itu, elemen kisah baru dibuat untuk mengisi beberapa celah kosong didalamnya, menciptakan  cerita baru yang menggairahkan kita dengan kemungkinan-kemungkinan baru. Poe menerbangkan pesawat X-wing , Rey memegang pedang lightsaber berwarna biru; perpaduan antara yang baru dengan yang lama adalah suatu hal yang sangat brilian, memberikan kita semua apa yang kita inginkan.



Pada akhirnya, "Star Wars VII: The Force Awakens" menunjukkan karya seorang J.J Abrams seorang pembuat film yang menghadapi tugas terberatnya yaitu bagaimana melanjutkan salah satu ensembles yang paling dicintai dalam sejarah film, melanjutkan petualangan karakter mereka sebelumnya, dan membantu mereka melewati tongkat dari generasi jaman dulu ke jaman modern hingga menjadi  salah satu tokoh ikonik  saat ini - dan muncul kembali dengan solusi yang bahkan ketika itu tidak terpikirkan, diikutkan ke dalam seri ini dengan cukup stylish, momentum, cinta untuk membuktikan kepada siapa pun yang pernah menganggap diri sebagai seorang penggemar sejatinya Star Wars. Dan mengenai “cliffhanger”endingnya atas beberapa pertanyaan yang belum terjawab setidaknya ini menjadikan spekulasi 18 bulan ke depan. Sekarang saatnya untuk menantikan apakah Episode VIII ( Mei 2017) dapat membangun serta membawa franchise Star Wars kembali ke orbit yang lebih tinggi.



 

Minggu, 07 Juni 2015

Insidious: Chapter 3

Sutradara: Leigh Whannell, 2015 

Hingga saat ini, franchise Insidious  membahas permasalahan teror yang terjadi hingga dua generasi dari keluarga Lambert dan upaya untuk mengusir “warisan” iblis tersebut. Dengan diperankan oleh Patrick Wilson, Rose Byrne dan Lin Shaye, dua film sebelumnya berhasil membuat penonton ketakutan seperti tercermin dalam perolehan box office signifikan pada tahun 2011 dan 2013.

Alih-alih meninjau kembali sejarah  dari keluarga Lambert, Bab 3 melanjutkan kontinuitas ceritanya dari salah satu karakter pendukungnya yaitu Elise Rainier (Shaye), seorang cenayang yang membantu keluarga Lambert dalam dua film pertama. Jauh sebelum Elise dikenal sebagai pengusir/pemburu setan, dia hidup menyendiri jauh dari keramaian setelah kematian suami tercinta. Hingga suatu ketika seorang  remaja putri, Quinn Brenner (Stefanie Scott) datang mengetuk pintu rumahnya. Dalam keadaan penasaran apa yang terjadi pada ibunya, Lily, Quinn mencari bantuan mencoba berkomunikasi  di akhirat sana. Sebenarnya Elise enggan untuk membantu, tapi kemudian dengan cepat berbalik saja ketika usahanya untuk menjangkau Lily terungkap satu roh yang jauh lebih jahat membayangi Quinn.

Tidak ada yang sangat salah dengan cerita tentang hantu itu sendiri. Masuk akal, ada logika ketika sesuatu terjadi, dan Whannell masih melakukan yang terbaik untuk menjaga pace film ini semisalnya ada beberapa serangan hantu tiba-tiba dalam jarak dekat diselingi oleh karakter tokoh didalamnya mencoba untuk mencari tahu bagaimana untuk menanganinya. Karakter utama  Quinn sendiri bukan karakter yang  menarik dan jika di akhir cerita tersingkap siapa atau apa yang menghantui pribadinya adalah hal yang tidak terlalu mengejutkan, dengan catatan jika Anda tahu genre ini . Hal-hal yang paling menarik di bab 3 ini adalah yang dilakukan oleh Elise di “luar sana”, The Further.

(Mungkin) inilah beberapa kekurangan terbesar dengan Bab 3. Selama dua film pertama, kita telah belajar cukup banyak tentang “The Further”, dan tampaknya tentang itu saja rasanya ada hal lebih yang bisa lebih banyak digali dari franchise film ini. Kenyataanya dalam sekuel kali ini mereka berbicara tentang “The Further” sedikit, ya  tidak mendapatkan porsi waktu lebih banyak. Ide yang paling menarik dalam Insidious adalah tentang hubungan ayah dan anak, yang dimainkan oleh Patrick Wilson dan Ty Simkins, yang keduanya memiliki kemampuan untuk meninggalkan tubuh mereka di malam hari dan menjelajahi “The further”.  Jadi seharusnya atau lebih baik ada lebih banyak orang yang bisa melakukan itu dengan kata lain mengapa tidak menggunakannya untuk mengeksplorasi sudut-sudut lebih dari dunia lain itu?. Malah yang penonton saksikan adalah ide pengulangan cerita hantu (lagi) seperti film- film hantu kebanyakan?.

Akhir kata, diluar beberapa kekurangan baik dari segi ide cerita yang dibawakan maupun tingkat keseraman yang boleh dibilang masih kalah creepy-nya dengan 2 seri sebelumnya, Insidious 3 tetap merupakan salah satu franschise film horror yang mampu memacu jantung penontonnya layaknya naik roller coaster. Ada banyak jenis horor, tapi ketika Whannell dan Wan, berusaha maksimal memanfaatkan ide menyuntikkan rasa takut, cerita dan humor ke dalam fitur mereka, itu mungkin tidak menjadi sesuatu hal yang monoton, menonton berulang-ulang. Adalah suatu keasyikan tersendiri ketika duduk di bangku sebuah teater yang gelap dengan penonton yang ramai, kita mungkin akan memiliki waktu yang menyenangkan.

 

Minggu, 31 Mei 2015

San Andreas

Sutradara: Brad Peyton, 2015
 
Dalam film San Andreas, Johnson berperan sebagai  Ray Gaines, seorang pilot helikopter LAFD yang mengkhususkan diri dalam operasi pencarian dan penyelamatan di Los Angeles. Di lokasi berbeda  tepatnya Cal Tech, seorang ahli gempa Dr. Lawrence Hayes (Paul Giamatti) memprediksi akan terjadi  serangan gempa berturut- turut di sepanjang garis patahan San Andreas, mulai dari Los Angeles hingga San Francisco. Apa yang dilakukan sang tokoh utama? Ray memprioritaskan keselamatan keluarganya terlebih dahulu. Adalah Emma (Carla Gugino), mantan istrinya, dan putri mereka, Blake (Alexandra Daddario) yang terjebak di reruntuhan di Frisco sampai diselamatkan oleh Ben (Hugo Johnstone-Burt) dan adiknya, Ollie (Seni Parkinson).

Sebagian penonton pasti bertanya siapa yang mengarahkan film sedahsyat ini . Ini cukup beralasan karena melihat filmografi dari sang sutradara, banyak yang tidak mengira ia bisa membuat film bencana alam sehebat itu. Ambil contoh hanya 2 (dua) film layar lebar yang diarahkan olehnya, Cats and Dogs: The Revenge of Kitty Galore (2010) dan Journey 2: The Mysterious Island (2012,) selain itu merupakan karya film pendek. Dari 2 film itu saja hasil perolehan box office-nya tidak bagus-bagus amat. Seperti film bertema sejenis banyak mengambil adegan dalam berbagai lokasi dan dalam berbagai macam manusia menghindari puing-puing dan melakukan banyak teriakan - gempa menghancurkan LA dan San Francisco secara bersamaan. Namun sebagai pembeda dari film sejenis Peyton mengambil satu atau dua detil adegan yang mudah diingat oleh penonton nantinya. Contohnya ketika di  udara Ray melirik ke bawah melihat persimpangan jalan bebas hambatan diam-diam runtuh, atau pengambilan shot panjang ketika Emma berada didalam bangunan tinggi bersamaan dengan para pelayan dan tamu panik mencari keselamatan. Ya, meski Brad Peyton mengarahkan tema bencana alam adalah untuk pertama kalinya tetapi harus diakui dirinya berhasil membuat filmnya ini terlihat alami yakni bagaimana mengambil  angle dari jarak dekat, bukan dari angle jauh.

San Andreas sangat ingin membuat audiensnya  merasakan ketakutan yang sama yang dialami ketika seluruh kota dihancurkan oleh kekuatan alam di luar kendali manusia, sekaligus juga benar-benar ingin membuat audiensnya berpikir apakah Ray bisa menyelamatkan pernikahannya hingga dipenghujung cerita. Karena memang begitulah yang diinginkan oleh sutradara Brad Peyton bersama penulis Carlton Cuse bertujuan untuk keduanya. Performa sang tokoh utama di film ini Dwayne Johnson a.ka. The Rock sebagai seorang ayah yang merasa bersalah atas kejadian dimasa lampau membawa dirinya harus tampil menangis didepan kamera, sangat jarang bukan. Sementara itu Paul Giamatti sebagian besar muncul untuk menguraikan ilmu seismologi yang sedang diperdebatkan. Alexandra Daddario yang terus-menerus –entah disengaja atau tidak- mempertontonkan ,maaf,belahan dadanya tidak peduli situasi atau adegan, dalam usahanya  mencapai keselamatan.

San Andreas bukan tentang kekacauan bencana alam dalam skala kecil, malah sebaliknya gempa pertama yang sudah terjadi membuat gempa selanjutnya dalam skala Ritcher lebih besar dari sebelumnya. Sekali lagi audiens diajak bersama melakukan perjalanan dengan Dwayne Johnson ke jantung kota gempa. Adalah sebuah nasib keberuntungan yang dibawakan secara berlebihan ketika situasi semakin memburuk disaat bersamaan ditutupi oleh tontonan CGI mengambil prioritas di atas fakta ilmiah. Diluar nalar tersebut, San Andreas termasuk salah satu film bencana alam terbesar akhir-akhir tahun ini- masih ingat film “2012” arahan Roland Emmerich yang filmnya begitu menggemparkan seluruh dunia termasuk di Indonesia khususnya-yang telah absen dari tema film bencana alam.


Minggu, 24 Mei 2015

Spy

Sutradara: Paul Feig, 2015

Tak banyak yang menyangka kalau Paul Feig masih memakai Melissa McCarthy sebagai salah satu pemain aktrisnya sampai film ketiga yang ia buat dalam tahun berturut-turut. Ini dimulai pada tahun 2011 film Bridesmaids  bercerita tentang pengiring pengantin wanita, kemudian berlanjut pada tahun 2013 film The Heat bercerita tentang dunia kriminalitas dan ditahun ini dirilislah film Spy yang kalau sekilas temanya hampir mirip dengan film The Heat. Bagi yang sudah menonton setidaknya 2 (dua) film tersebut, kalian pasti tahu bahwa semua film yang dibuat oleh Feig rata-rata bergenre komedi.  Jadi, sudah pasti  nanti jangan terkecoh akan judulnya yang terlihat sangat serius ini.

Kisahnya dimulai dengan adegan aksi layaknya film-film James Bond yang sangat menjanjikan, Bradley Fine (Jude Law) seorang agen mata-mata yang menyelidiki sebuah kasus  pencarian siapa penyimpan senjata nuklir portable. Dalam menjalankan setiap misinya  ia dibantu oleh seseorang. Adalah Susan Cooper (Melissa McCarthy) yang bertindak sebagai  “mata dan telinga” bagi Bradley. Melalui keahliaannya di meja computer, aksi Bradley terbilang selalu berhasil. Hingga suatu ketika Bradley dinyatakan meninggal dunia dalam menyelidiki kasus berikutnya. Karena pemimpin kerja Bradley, Elaine Crocker (Allison Janney) belum menemukan pengganti yang tepat untuk meneruskan kasus tersebut dan ditambahi kalau dari diri Cooper sendiri merasa balas dendam akan kematian sahabat dekat rekan kerjanya. Mau tidak mau tibalah saatnya Cooper menjadi seorang  agen wanita mata-mata.

Dari sinopsis cerita diatas terlihat jelas bahwa Spy memang film aksi yang mengangkat dunia agen mata-mata. Ya, ini tidak dipungkiri karena dalam paruh pertama audiens akan diperlihatkan semua hal yang berkaitan dengan agen mata-mata. Mulai dari perlengkapan yang dipakai, aksi sepak terjang dilapangan, hingga perkelahian yang tidak dapat dihindari saat berhadapan langsung dengan musuh. Benar-benar dibuat dan terlihat serius. Pelan pelan namun pasti film ini mulai menunjukkan genre komedinya. Salah satu yang mungkin akan menjadi adegan memorable yaitu ketika Cooper mengejar mobil musuh dengan menggunakan semacam sepeda motor dijalan raya. Dijamin tidak mungkin tidak tertawa. Semua audience tidak ada yang mengira ada ide semacam itu. Super lucu. Berbicara mengenai ide, ini semua tak luput dari Feig sendiri, selain menjadi seorang sutradara dirinya merangkap sebagai penulis cerita. Bagaimana meramu sebuah cerita bagus dimana komposisi adegan aksi dengan adegan humornya terasa sama rata, tidak melebihkan salah satu. Itu tugas yang tidak mudah. Untungnya, semua menjadi mudah berkat  aktris Melissa McCarthy -tanpa harus kita melihat kelucuannya dari tampilan fisik- aktingnya di film ini terlihat natural sekali. Karakternya adalah seorang wanita yang mendambakan cinta dari seorang pria idaman tapi ketika mengetahui sang pujaan meninggal dunia, apapun akan dilakukannya.

Masih di ingatan penulis beberapa bulan lalu ada satu film yang juga mengambil tema cerita agen mata-mata, The Kingsman : The Secret Service. Dalam menyorot kisah sang lakon utama sebagai seorang spionase,  kedua film ini baik Kingsman dan Spy sedikit berbelok/ berbeda dari film tentang spionase yang sudah-sudah.  Pembedanya kalau di Kingsman masih banyak berjalan dijalur aksi, banyak adegan sadis bahkan satu adegan disensor habis di Indonesia, sedangkan pada Spy lebih mengandalkan humor. (Mungkin) yang lebih meng-humor-kan audiens adalah dalam film ini aktor Jason Statham yang selama ini kita tahu aktor berkepala plontos hampir sebagian besar bermain di film penuh aksi baku hantam, ledak-ledakkan bahkan di film franshise Fast and Furious, Furious 7 dirinya mengambil peran antagonis tetapi di film ini  seakan-akan kehilangan “taringnya”. Ini bukan berarti aktingnya menurun, malah boleh dibilang asyik juga sekali-kali melihat akting Statham bermain di film bergenre komedi. Akhir kata, ditengah gempuran film sarat aksi pada musim panas tahun ini-yang walau masih berlanjut film blockbuster beberapa bulan kedepan-  tidak ada salahnya kalian menonton film ini demi menghilangkan kepenatan rutinitas sehar-hari. Spy adalah kisah kocak seorang agen mata-mata.