Tampilkan postingan dengan label animation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label animation. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2016

Your Name

Sutradara: Makoto Shinkai, 2016


Yang selama ini film animasi yang kita kenal dan tonton hampir kebanyakan produksi keluaran Hollywood. Mulai dari si putri Snow White sampai yang terakhir Moana (The Walt Disney), lalu ada lagi tokoh Po dalam Kungfu Panda (DreamWorks Animation), tokoh boneka laki koboi dalam Toy Story (Pixar Animation Studios). Semuanya ini melekat dan mengambil hati penonton, terutama anak-anak kecil. Lantas bagaimana dengan film animasi diluar Hollywood. Kalau mau diingat lebih dalam. Ada, tapi sedikit saja yang membekas. Masih ingat film Astro Boy. Ini film animasi pertama dari Jepang -yang digambar dengan tangan maupun menggunakan teknologi komputer- yang mencapai kepopuleran dikala itu karangan Ozamu Tezuka, yang kita kenal dengan istilah anime.

Dengan berjalannya waktu dari tahun ke tahun, muncullah satu film anime yang menjadi bahan perbincangan di penghujung tahun ini. Selain dipertimbangkan dalam nominasi Oscar, film ini sudah berhasil meraih penghargaan di nominasi "Best Feature Length Film" pada ajang Sitges International Fantastic Film Festival.  Perjalanan ini dimulai dari seorang gadis SMA bernama Mitsuha yang tinggal disebuah desa kecil di kaki gunung. Kendati ia memiliki pribadi yang cukup jujur namun ia sesungguhnya kurang menyukai adat kuil Shinto yang dianut keluarganya dan terlebih lagi kegiatan politik Ayahnya. Sebagai gadis desa ia pun memimpikan tinggal di kota besar seperti Tokyo. Sedangkan sebaliknya Taki ialah cowok SMA yang tinggal disebuah kota besar Tokyo. Taki pun lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, bekerja sambilan di restoran Italia dan mengikuti kegiatan yang terkait dengan arsitektur dan seni rupa. Suatu hari keduanya bermimpi saling bertukar tubuh dan menjalani kehidupan lawannya. Padahal keduanya belum pernah bertemu ataupun hanya sekedar mengenal nama.

Hingga 40 menit pertama, kita tidak tahu kemana film ini menuju. Yang kita tahu ini film drama sepasang remaja yang saling menceritakan impiannya masing- masing. Tapi, setelah lewat pertengahan film, sangat mengasyikan untuk melihat bagaimana film ini akan membuka satu per satu sudut pandang dari semua karakternya hingga membentuk sebuah versi cerita yang lengkap. Kisahnya akan kembali dan kembali lagi ke awal, namun dari sudut pandang yang berbeda, namun alur penceritaannya dibuat sedemikian rupa sehingga Your Name tampak seperti sebuah kejadian misterius yang terjadi diantara kedua tokoh utamanya. Hal ini meletakkan unsur fantasy di awal, kemudian berubah menjadi drama romantis diakhir dengan alur yang cukup memberi nuansa baper.

Meski diperankan tanpa manusia asli, film ini nyatanya mampu membangun drama yang kuat. Hal ini terutama didukung oleh kemampuan bercerita yang diterjemahkan oleh sang penulis dalam satu jalinan naskah yang kemudian diarahkan oleh sang sutradara. Hebatnya adalah satu orang yang handal merangkap dua jabatan tersebut, Makoto Shinkai. Sebelum film Your Name, dirinya terkenal dengan sederet film anime dengan menampilkan visualisasi indah memanjakan mata diiringi storyline sederhana namun bisa memainkan perasaan penonton. Buat yang belum tahu, hampir semua film Shinkai punya pattern yang sama: dua karakter cowok dan cewek yang awalnya tidak saling kenal, lalu keduanya akhirnya terhubung lewat pertemuan-pertemuan tidak terduga. Coba tonton 5 Centimeters Per Second (2007), dan yang paling baru, The Garden of Words (2013).

Meskipun beberapa adegan terasa (dan memang) benar- benar hanya akan terjadi di dalam film, ditambah lagi endingnya yang menjawab alasan memakai judul film dibandingkan dengan irama yang ditawarkan sejak awal, film ini masih menarik untuk ditonton. Dengan cepat kita akan mengetahui alasan tokoh Taki (seperti juga kita didunia nyata) jatuh cinta pada Mitsuha. Taki mengundang simpati penonton, dan Mitsuha tampil energik. Sungguh jarang ada film anime yang mampu menawarkan twist sedemikian baik dengan tema percintaan unik. Dan, apalagi yang paling ingin ditanyakan pada seorang anak laki- laki yang sedang mengincar seorang gadis demikian pula sebaliknya. Jika bukan Kimi No Na Wa (Your Name). Karena dari nama lah kita lebih dekat dan dekat lagi.

                     

Minggu, 21 Agustus 2016

Final Fantasy XV: Kingsglaive

Sutradara: Takeshi Nozue, 2016


Final Fantasy XV dibuka perkenalan singkat, yang mungkin bagi penonton awam menit-menit awal ini sedikit membingungkan dengan pelbagai macam nama dan istilah, adalah Noctis seorang putra mahkota pernah tinggal di sebuah Kerajaan bernama Tenebrae bersama puteri Lunafreya Nox Fleuret. Ketika mendapat  serangan mendadak  yang dilakukan oleh daemon milik kerajaan Niflheim hampir membunuh dirinya dan saat itu dirinya harus berpisah dengan Luna karena menjadi tawanan musuh tersebut. Lompat 12 tahun kemudian pada suatu kesempatan, Kerajaan Niflheim memberikan ultimatum kepada King Regis (Sean Bean), yaitu menyerahkan sebagian besar wilayah Lucis, dan menikahkan putranya Raja Noctis dengan Ratu Lunafreya dari Tenebrae (Lena Headey), yang saat ini menjadi tawanan Niflheim. Suatu tawaran yang dirasa memberikan perdamaian dari perang berkepanjangan ini. Namun ada konspirasi di balik ultimatum perdamaian ini, dan Kingsglaive menjadi garda terdepan dalam menghadapinya. Berbekal sihir kerajaan, Nyx (Aaron Paul) yang memiliki kekuatan warp dan para prajuritnya bertarung mempertahankan Lucis.

Kalau boleh sedikit mengingat kembali, Square Enix yang menjadi pengembang game dengan grafis yang menggabungkan anime jepang dan 3D ini memang menyuguhkan karakter didalamnya dengan kualitas grafis yang mengagumkan. Final Fantasy: The Spirits Within (2001) dan Final Fantasy VII: Advent Children (2005)  punya nuansa yang Final Fantasy banget. Semua detil wajah, rambut, kulit bahkan ketika bergerak benar-benar seperti manusia asli. Ini salah satu kehebatan yang dimiliki FF dengan spesial efek CGI yang tampil maksimal disertai dengan aksi memukau layaknya penonton bermain game. Kali ini, Square Enix mencoba peruntungan kembali dengan menjembatani antara selera gamer Final Fantasy dengan selera penikmat film secara umum. Belum lagi untuk memperluas pangsa pasar secara Internasional, sampai-sampai dubbingnya pun di alih suarakan oleh aktor dan aktris papan atas Hollywood yang terkenal lewat serial TV “Game Of Thrones” dan “Breaking Bad”.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya yang dihadirkan dalam Final Fantasy XV: Kingsglaive kali ini memang sungguh berbeda. Menurut saya efektif tepat sasaran dan ini  tergantung dari fokus penontonnya. Mereka yang fokus pada aksi langsung dibuka dengan sebuah adegan aksi besar-besaran hingga pada penghujung film. Sedangkan bagi mereka yang fokus pada cerita akan menemukan kepingan demi kepingan puzzle yang diakhir cerita akan menjadi satu tampilan utuh. Itu semua kemudian ditutup untuk kemudian menjadi pembuka gamenya sendiri yang digadang-gadang akan dirilis sekitar bulan Nopember 2016. Sebuah strategi perfilman yang menurut saya luar biasa dan tentunya sangat layak untuk segera ditonton dibioskop.



Sebagai penyemangat dan keluar dari tema film ini sendiri, Final Fantasy XV adalah game yang tengah dalam tahap pengembangan dengan genre action role playing game yang dikembangkan oleh Square Enix untuk platform Play Station 4 dan Xbox One. Game ini merupakan seri ke-15 dari serial utama Final Fantasy dan bagian dari sub-series Fabula Nova Crystallis dari Final Fantasy XIII dan Final Fantasy Type-0. Game ini berfokus kepada sang karakter utama, Noctis Lucis Caelum, seorang pangeran dari negara Lucis yang diberkahi kekuatan dari dewa kematian di masa remajanya. Lucis yang terlibat perang dingin dengan musuh abadinya, Niflheim, akhirnya terpaksa untuk menabuh genderang perang kembali. Niflheim yang ingin menguasai semua kristal di dunia, mencoba menjajah Lucis dan mengambil kristal negara mereka kemudian menyerang Solheim, Tenebrae, dan Accordo. Noctis dan teman-temannya yang selamat dari penyerangan tersebut akhirnya harus berpetualang untuk merebut kembali kristal negara mereka dan mengalahkan pasukan Niflheim. Akhir kata, bagi kalian yang berencana akan main game FF XV pastikan menonton Kingsglaive dari film ini karena akan memberikan gambaran detil  terhadap kejadian penting yang akan ada di versi video gamenya nanti.


Kamis, 25 Desember 2014

Stand By Me Doraemon

 Sutradara: Takashi Yamazaki& Ryuichi Yagi, 2014

Film ini dibuka dengan beberapa kebiasaan buruk Nobita dari dihukum di luar kelas karena terlambat masuk sekolah sampai hasil studi dan olahraga tidak ada yang memuaskan. Melihat hal itu Sewashi, cicit Nobita dari abad ke-22 berkunjung ke rumah kakek buyutnya,Nobita dalam upaya untuk mengubah masa depan. Salah satu caranya adalah dengan mencegah pernikahan Nobita dengan Jaiko (=adik Gian) karena pernikahan mereka berdua ternyata berakhir dengan krisis keuangan. Dan, untuk mencapai misi ini Sewashi mendorong Doraemon untuk membuat Nobita mendapatkan kebahagiaan dan supaya Doraemon tetap memegang janji tersebut Sewashi memasang alat yang mencegah Doraemon untuk kembali ke masa depan sebelum tercapai tujuannya. Dan sejak saat itu, kisah perjalanan mereka berdua dimulai. Doraemon tinggal bersama Nobita, membantu dia dengan alat-alat dari kantong ajaib sampai Nobita merasa bahagia.

Seperti kebanyakan film animasi yang lebih diperuntukkan untuk anak-anak kecil maka alur ceritanya sendiri sangat sederhana tetapi tetap menghibur. Kisahnya pun disampaikan dengan cara yang easyly dan dibawa begitu enjoy-nya. Ada banyak adegan lucu saat melibatkan kejenakaan Nobita yang tentu membuat penonton tertawa tapi inti dari seluruh film ini adalah momen-momen emosional antara Nobita dengan teman di sekelilingnya. Penulis sendiri ketika menonton film sedih jarang menitikkan air mata dan jujur harus mengatakan bahwa ada banyak momen dalam film yang akan membuat mata Anda lembab. Ditambah dengan saat-saat komedi, ada beberapa kali di mana menemukan diri kita baik tertawa dan menangis pada saat bersamaan. Ini salah satu film down to earth yang penuh dengan kenangan masa kecil, karena menonton karakter tokoh-tokohnya di film Stand By Me Doraemon seakan menjadi kilas balik atas gambaran diri kita waktu masih kecil dan nakal-nakalnya. Film ini tentu saja penuh dengan nostalgia, menangkap peristiwa kehidupan Nobita sampai ke masa dewasanya bahwa ia segera menikah, sementara berusaha untuk tidak terdengar terlalu cheesy dan klise.

Tema film ini menggambarkan upaya Nobita untuk mengatasi semua kelemahannya sendiri untuk mencapai kebahagiaan. Adegan dimana dia menantang Gian untuk bertarung satu lawan satu seraya memberikan bukti bahwa tanpa kehadiran Doraemon yang selama ini memberikan rasa nyaman padanya, ia putuskan tak meminta pertolongan Doraemon. Jika Anda sudah familiar dengan cerita-cerita Doraemon di masa-masa kecil kita baik demi nostalgia, ataupun untuk ditonton bersama dengan orang-orang tersayang ataupun dengan keluarga, penulis sarankan untuk menonton film ini. Pada akhirnya kita akan mengetahui mengapa film ini sukses setelah menonton dan membuktikan sendiri.

Sebagai catatan tambahan:
1. Stand By Me Doraemon dibuat untuk merayakan ulang tahun ke-80 dari (almarhum) Fujiko F. Fujio , dan telah ditayangkan di Jepang tanggal 8 Agustus 2014. 
2. Lagu tema yang menjadi lagu penutup Stand By Me berjudul "Himawari no Yakusoku" dinyanyikan oleh Motohiro Hata. 
3. Selama post credit scene berjalan, tim film menunjukkan beberapa bloopers lucu untuk membuat penonton tertawa.

 
 

Minggu, 07 Juli 2013

Despicable Me 2

Sutradara: Pierre Coffin and Chris Renaud, 2013



Proses dibuat tidaknya lanjutan cerita berikutnya (baca: sekuel) itu sebagian besar tergantung dari reaksi penonton. Kalau respon positif yang didapat, sudah pasti pihak produser, penulis naskah dan semua orang yang terlibat dibelakang layar dalam film tersebut menjanjikan sekuel demi memuaskan dan memenuhi harapan dan permintaan penonton. Ini diluar hasil perolehan keuntungan seluruh dunia. Hal inilah yang terjadi pada film Despicable Me (2010) yang menceritakan sosok pria berhidung panjang menekuk bernama Gru yang meng-klaim dirinya sebagai seorang penjahat terhebat sepanjang masa. Dalam melakukan aksinya ia digawangi oleh Dr. Nefario dan tentu saja ada si minion-minion kecil berwarna kuning. Apa saja perubahan yang sudah terjadi pada 3 (tiga) tahun berikutnya pada diri Gru beserta timnya ini?.

Rabu, 10 April 2013

Batman: The Dark Knight Returns

Sutradara: Jay Oliva, 2012 (part 1) 2013 (part 2)



Sepuluh tahun berlalu sejak terakhir kalinya Batman "Sang Manusia Kelelawar" memenuhi tugasnya menjaga keadilan di Kota Gotham berpetualang di malam hari, sutradara Jay Oliva memanggil tokoh jagoan ini untuk kembali beraksi di The Dark Knight Returns yang terbagi menjadi 2 (dua) bagian cerita. Dan, sebelum menonton film ini yang perlu kita tahu The Dark Knight Returns merupakan adaptasi dari karya grafik novel Frank Miller terbitan tahun 1986. Jadi jangan khawatir kalau teman- teman tak ingat cerita di film trilogi Batman arahan Christopher Nolan. Karena, cerita film ini bukanlah lanjutan dari akhir cerita The Dark Knight Rises (2012).

Rabu, 20 Februari 2013

Brave

Sutradara: Mark Andrews, Brenda Chapman, Steve Purcell, 2012


Terhitung mulai tahun 2006 sampai tahun 2012 lalu, Pixar-yang hampir selalu bekerjasama dengan Disney- secara kontinu merilis satu film animasi di setiap tahunnya. Cars 2 (2011) adalah film animasi mereka yang berada di urutan kedua belas tetapi amat disayangkan sekuel Cars (2006) ini ketika dirilis di pasaran hasilnya sedikit mengecewakan walau pendapatan box office diseluruh dunia masih mengutungkan. Mungkin, sebagai penebus kekecewaannya dan atau menunjukkan kembali kehebatannya. Di tahun 2012 studio ini merilis satu film yang tepat berada diurutan ketiga belas- sebagian orang mempercayai angka ini adalah angka sial- dimana karakter utama yang diangkat baru kali ini dibuat oleh Pixar-meski mitranya Disney sudah mengangkatnya ke layar lebar duluan. Ya, seorang princess alias putri raja dari negara Skotlandia.

Jumat, 30 November 2012

Rise of the Guardians

Director: Peter Ramsey, 2012


Apakah teman- teman masih ingat di tahun 2010 lalu ada satu film animasi yang berjudul  Legend of the Guardians: The Owls of Ga’Hoole - bercerita tentang seekor burung hantu muda bernama Soren yang diculik oleh tentara jahat dan berusaha meloloskan diri bersama teman barunya sembari mencari legenda The Guardians -disutradarai oleh Zack Snyder yang sebelumnya pernah menangani film 300 dan Watchmen?.  Kalau masih ingat, di tahun 2012 ini telah dirilis satu film animasi juga  yang (uniknya) sama-sama ada embel kata “The Guardians”-nya. Tapi, jangan sampai kecele ya karena Rise of the Guardians ini bukanlah sekuel atau lanjutan kisah dari Legend of the Guardians: The Owls of Ga’Hoole. Oiya berbicara tentang film animasi, dari sekian banyak film animasi keluaran Hollywood yang saya tonton di bioskop ternyata masih 3 (tiga) film yaitu Kung-fu Panda(2008), The Adventure of Tin-Tin: Secret of the Unicorn(2011) dan film yang baru saja saya tonton versi 3D-nya kemarin malam di Grand City XXI. Oke, saya mulai mengulas bagaimana kisah para The Guardians ini…

Untuk lebih memudahkan mengenal lebih dalam jalan cerita dari film ini, saya terlebih dahulu mengenalkan satu per satu siapa saja anggota “The Guardians”. Semula The Guardians hanya terdiri dari 4 (empat) tokoh mitos mulai dari Sinterklas (Santa Claus), Peri Gigi (Tooth Fairy), Peri Mimpi (Sandman) dan Kelinci Paskah (Easter Bunny). Tiap anggotanya memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. Sinterklas dengan mata besarnya mampu melihat keajaiban sehingga di saat malam Natal dia selalu membagikan kado Natal lewat cerobong asap tiap rumah. Peri Gigi yang mengganti gigi tanggal anak-anak kecil dengan hadiah yang diselipkan dibawah bantal. Peri Mimpi yang selalu memberikan mimpi- mimpi indah disaat tertidur. Kelinci Paskah kalau ini sudah pasti banyak yang tahu kalau di masa Paskah dia selalu membuat telur warna-warni yang biasanya diikuti perlombaan mencari telur Paskah. Ya, semua yang dilakukan “The Guardians” bertujuan membahagiakan anak kecil di Bumi. Dan, selama berabad- abad tugas yang dilakukan “The Guardians” tetap dalam keseimbangan, dalam hal ini tidak ada satu anak kecil yang tidak merasa kebahagiaan. Keseimbangan yang dimaksud disini  dapat diketahui dari seberapa banyak titik cahaya yang bersinar lewat sebuah alat The Globe, dimana tugas ini diemban oleh North si Sinterklas. Hingga suatu hari cahaya -yang melambangkan rasa percaya anak-anak terhadap The Guardians- diradar bumi mulai meredup, menandakan ada sesuatu yang tidak beres.

Jauh dari tempat Kutub Utara dimana North tinggal. Adalah seorang anak laki- laki yang secara tiba- tiba –tepatnya setelah melihat Bulan diatasnya- memiliki kemampuan khusus yakni mampu mengendalikan es dan membuat salju dari sebuah tongkat ajaib ditangannya. Namanya Jack Frost. Memang kemampuan yang dimilikinya dipergunakan untuk bersenang- senang dengan anak seumurannya. Sayang, apa saja yang sudah dilakukan kurang mendapat simpati atau hubungan timbal balik dikarenakan dirinya tidak dapat dilihat manusia ( the invisible man). Merasa percuma, dalam kesendiriannya  di malam hari ia menengadah ke langit dan untuk kedua kalinya bertanya pada Bulan “ jika ada tindakan yang salah, sekiranya tolong beritahu saya”. Cerita kembali ke The Guardians. Kecurigaan North terhadap sesuatu yang tidak beres -yang tampak di The Globe- ternyata ada benarnya, penyebab redupnya ini tak lain bangkitnya Pitch The Boogeyman, si Penyebar Mimpi Buruk dari Abad Kegelapan yang terkurung selama 300 tahun. Mengingat sosok Pitch ini tidak mudah dikalahkan, maka North mewakili The Guardians memohon pada (lagi-lagi) Bulan, di film ini diberi nama Man In Moon, supaya diberikan satu tambahan anggota The Guardians. Simsalabim…Man In Moon menunjuk satu sosok yang tak lain adalah Jack Frost. Demi membuktikan apakah Jack Frost layak sebagai anggota The Guardians ditugaskanlah Easter Bunny menjemputnya. Setibanya di Kutub Utara, dirinya diminta oleh The Guardians untuk membantu melawan kekuatan jahat Pitch. Seperti film The Avengers,proses terjalinnya kerjasama menjadi satu tim solid tidaklah mudah karena selalu ada pertentangan antar ego didalamnya. Ya, inipun yang terjadi pada diri Jack Frost. Semula dirinya tidak akan mau bergabung dalam The Guardians, tapi karena ada satu hal penting yang harus ia temukan dan itu hanya bisa didapatkan dengan cara bergabung dalam The Guardians,akhirnya ia pun setuju bergabung. Dan, kisah Rise of the Guardians beranjak naik saat The Pitch melancarkan berbagai macam strategi jahat terhadap The Guardians dimulai dari mengubah mimpi indah yang diberikan oleh Sandman dijadikannya mimpi buruk, serangan Pitch di Istana Peri Gigi dengan mengambil gigi anak kecil yang sudah payah dikumpulkan oleh Peri Gigi, memecahkan telur paskah buatan Easter Bunny hingga klimaksnya berusaha merayu Jack Frost supaya bergabung dengan dirinya. Semua ini dilakukan oleh Pitch atas satu tujuan yaitu supaya kedepannya anak kecil di Bumi tidak akan lagi percaya dengan The Guardians alias akan percaya pada sosok dirinya sebagai The Boogeyman. Yap, untuk pertama kalinya The Guardians harus bergabung untuk melindungi harapan, keyakinan, dan imajinasi anak- anak di seluruh Bumi.

Jauh- jauh hari sebelum film ini dirilis, melihat poster filmnya  saja terutama poster dengan masing- masing main character-nya saya sudah ada rasa pingin nonton. Apalagi melihat trailernya waduh rasa pingin nontonnya tambah dobel dobel. Dan, saat saya baca twitter resminya United International Picture Indonesia dan Cinema21 yang menyebutkan tanggal rilis film ini di Indonesia termasuk Surabaya langsung dech saya cabz nonton film ini. Ya, kisah Rise of the Guardians benar- benar tidak mengecewakan saya secara pribadi. Dari mulai mengenalkan karakter, membangun cerita  dari awal hingga menunjukkan konfliknya dimana, sampai mengakhiri cerita dengan tanpa cela. Diluar keindahan visual warna warni indahnya, adegan lucu dan sedih yang sudah berhasil ditampilkan. Akhir kata, film ini bercerita mengenai pentingnya mendapatkan kepercayaan dan berusaha menemukan satu kelebihan didalam manusia yakni milikilah hati yang murni…and if The Moon told you so, believe it ( Jack Frost quote).         



Minggu, 21 Oktober 2012

Resident Evil: Damnation

Director: Makoto Kamiya, 2012


Nampaknya tahun 2012 ini menjadi ajang pemanjaan bagi para pecinta  game komputer atau PlayStation, dalam hal ini yang saya maksudkan adalah video game buatan Capcom.  Hal ini langsung terlihat dengan kemunculan secara hampir bersamaan 2 (dua) buah film Resident Evil;  Resident Evil: Retribution dan Resident Evil: Damnation . Dan boleh dibilang, yang belakangan ini lebih menyuguhkan hal “lebih” dibanding Resident Evil: Retribution. Mungkin bagi gamer terutama penggemar kisah Resident Evil tak lagi terlalu terheran-heran dengan tampilan nyaris sempurna hasil olahan komputer grafis di film ini, karena visualisasinya persis seperti yang ada di video game-nya.

Diawali dengan narasi yang menceritakan mengenai salah satu negara dibagian EropaTimur, Republik Slavia Timur yang notabene pecahan dari Uni Soviet. Layaknya negara yang baru terbentuk pasti ada 2(dua) kubu yakni pihak  yang mendukung- termasuk pemerintahan didalamnya- dan  pihak yang menentang ( =pemberontak).  Perlawanan antara 2(dua) kubu inilah yang kemudian memicu adanya Perang Sipil. Selama Perang Sipil ini berlangsung diduga ada yang menggunakan Bio- Organic Weapons (BOWs) sebagai senjata andalannya- berupa mutant- mutant yang selama ini muncul dalam kasus Umbrella Corporation-, belum lagi ditenggarai kalau Amerika Serikat dan Rusia sedang mempersiapkan untuk campur tangan didalamnya . Untuk penyelidikan lebih lanjut mengenai rumor/ desas desus penggunaan BOWs, maka ditugaskanlah Leon S. Kennedy-seorang Agen Federal Amerika Serikat ke Republik Slavia Timur. Namun setelah kedatangannya yang masih dalam masa Perang Sipil , Inggrid Hunnigan teman kerja Leon memberitahu kalau pihak A.S telah membatalkan misinya dengan menarik mundur semua pasukannya. Kini Leon seorang diri berada di dalam medan perang sembari mencari jawaban atas “apa hubungan Pemerintah dengan BOWs”meski mengorbankan kehilangan kewarganegarannya.  Ditengah misinya Leon ditawan oleh 3(tiga) orang dari pihak pemberontak, Alexander Kozachenko, JD dan Ivan Judanovich setelah dirinya dikalahkan oleh semacam mutant Licker yang dipunyai oleh Ivan. Menyadari pihak pemberontak yang telah menggunakan BOWs, Leon mendesak Alexander untuk segera berhenti menggunakan BOWs. Sayang, permintaan Leon ini ditolak mentah- mentah oleh Alexander.

Dilokasi yang berbeda, Presiden Svetlana Belikova kedatangan tamu dari penyelidik P.B.B untuk terorisme senjata biologis (BOWs) yang dikirim oleh B.S.A.A, Ada Wong. Tujuan Ada Wong disini adalah menyediakan informasi yang berhubungan dengan BOWs itu sendiri. Dia mengungkapkan kebanyakan negara berkembang dan P.B.B menentang keberadaan BOWs tapi bagaimanapun juga masih diperdagangkan dipasar gelap. Dengan kemajuan teknologi, BOWs kini dapat membentuk hubungan antara manusia dengan BOWs dengan melalui cara tinggal didalam tubuh induknya, sehingga tercipta hubungan tuan dan budak. Cerita pun kembali ke karakter Leon yang masih dalam tahanan Alexander dkk. Tempat persembunyian yang sebelumnya mereka anggap aman/ tak diketahui oleh siapapun ternyata berhasil ditemukan oleh beberapa pihak militer dan sempat terjadi adu tembak dalam ruangan bawah tanah ini. Mereka ber-empat berusaha melarikan diri dari kejaran pihak militer, tetapi hanya Ivan-lah yang tidak berhasil keluar dari tempat persembunyian ini karena ditembak mati oleh Alexander dengan alasan Ivan terindikasi akan mengalami transformasi menjadi seorang zombie. Ya, zombie yang mereka temukan tidak hanya berada di dalam ruangan bawah tanah melainkan juga sudah berada di perkotaan. JD melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana proses seorang warga yang tadinya manusia biasa kemudian berubah menjadi seorang zombie melalui parasit yang dimasukkan ke dalam mulut. Dalam perjalananannya, mereka berdua masuk ke dalam satu gereja. Dan, ditempat ini mereka bertemu kembali dengan Alexander. Tanpa sepengetahuan Alexander, JD memberitahu ke Leon kalau Alexander bersama dengan teman-temannya yang masih hidup akan merencanakan serangan ke Istana Kepresidenan. Mengetahui hal ini, Leon secepatnya menuju Istana Kepresidenan dengan harapan sedini mungkin dapat mencegah rencana serangan Alexander dkk.

Untuk kali ini karakter utama di film Resident Evil tidak lagi menampilkan sosok Alice sebagai jagoannya. Sebagai gantinya diambil karakter Leon S. Kennedy-yang juga tampil di film Resident Evil: Retribution. Hasilnya? Walau tak ada Alice, saya tetap enjoy menikmati suguhan alur ceritanya belum lagi ditambah adegan aksinya. Bicara soal adegan aksi, tak kalah memukaunya dengan versi manusia yang sudah diperankan oleh si Milla Jovovich. Bisa dilihat ada beberapa adegan slow motion perkelahian tangan kosong antara Presiden Svetlana Belikova dengan Ada Wong atau saat perkelahian antara Presiden Svetlana Belikova dengan Leon.Inipun masih belum seberapa karena adegan pertarungan klimaksnya 'Wow banget'. So, bagi para gamer maupun pecinta film Resident Evil jangan lewatkan nonton film ini :)